Senin, 18 Maret 2019

ARTIKEL DA'WAH

Mendulang Mutiara Di Tanah Suci
By Abu Zulfa, Lc., MA.

Ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima memiliki kedudukan sangat istimewa dalam hati setiap muslim. Ibadah yang diwajibkan hanya sekali seumur hidup ini sarat dengan pelajaran dan mutiara hikmah berharga, yang seharusnya dipahami oleh setiap muslim, khususnya mereka yang mendapat taufik dari Allah untuk menginjakkan kaki di tanah suci.

Allah Ta’ala menempatkan rangkaian ibadah haji di tempat mulia yakni tanah haram, dan pada saat mulia, yakni bulan Dzulhijjah salah satu bulan haram. Kemudian mengistimewakan 10 hari awal bulan Dzulhijjah sebagai hari-hari paling mulia, sebagaimana Allah menjadikan 10 malam terakhir bulan Ramadhan sebagai malam-malam yang paling mulia, dimana amal ibadah pada hari dan malam termulia tersebut dilipatgandakan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3)
“Demi Fajar. Dan Malam Yang Sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 1-3).
Malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh awal Dzulhijjah. Sesuai pendapat yang shahih dari ulama tafsir, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid radhiyallahu ‘anhum, dan banyak ulama salaf dan khalaf. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hal. 390).
Pendapat ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
«مَا العَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ؟» قَالُوا: وَلاَ الجِهَادُ؟ قَالَ: «وَلاَ الجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ»
“Tiada hari-hari dimana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Allah selain hari-hari ini (sepuluh awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad?”, beliau menjawab: “Tidak pula jihad, melainkan seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun (dari keduanya).” (HR. Bukhari: 969).
Lalu dari sepuluh awal Dzulhijjah, Allah Ta’ala memuliakan dua hari, yakni hari yang genap dan yang ganjil. Hari yang genap adalah 10 Dzulhijjah atau yang dikenal dengan al-hajjul akbar, sedangkan hari yang ganjil adalah 9 Dzulhijjah, atau hari Arafah. (Tafsir Ibnu Katsir: jilid 8, hal. 391).
Tidaklah Allah memuliakan ibadah pada hari atau malam tertentu, melainkan banyak fadhilah dan mutiara hikmah bertebaran padanya.
MUTIARA HIKMAH DALAM MANASIK HAJI
Marilah kita mendulang mutiara-mutiara hikmah yang bertebaran di tanah suci, saat junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kepada para sahabat tata cara ibadah haji yang benar. Tatkala beliau menanamkan nilai-nilai luhur, sebagai acuan bagi para sahabat beliau dan seluruh umatnya hingga matahari tak terbit lagi.
Mutiara Ikhlas dan pengorbanan.
Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan adalah kunci utama diterimanya sebuah amal. Amal akan rusak jika terjangkit virus syirik besar maupun syirik kecil (riya’). Dalam melaksanakan ibadah haji ikhlas sangat penting, sebab orang yang dapat menunaikannya adalah orang yang mendapat taufik dan nikmat yang besar, karena banyak kaum muslimin yang masih hidup namun tak mampu, atau mampu namun wafat sebelum menunaikannya.
Di beberapa negara termasuk Indonesia, gelar haji atau hajjah memiliki harga istimewa, dan umumya dapat mengangkat status sosial seseorang. Karenanya, seorang haji atau hajjah harus menjaga keikhlasan lebih intensif saat melaksankan ibadah haji di tanah suci, dan setelah kembalinya ke tanah air.
Di antara hikmah besar rangkaian manasik haji adalah mengingat besarnya pengorbanan manusia pilihan Allah. Manasik haji sangat erat kaitannya dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya yang mulia.
Jika demikian, Allah Takkan Menelantarkan kami!
Setelah sekian lama menanti sang buah hati, akhirnya Allah mengaruniakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam seorang putra. Baru saja rindu hati terobati, kini beliau harus berpisah dengan putra yang dicintai. Tapi perintah Allah di atas segalanya, maka dengan ikhlas beliau membawa isteri tercinta dan putra mungilnya dari Palestina menuju sebuah lembah tak berpenghuni di tanah Makkah.
Lihatlah tingginya pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah, dengan hati yang tulus ia tinggalkan isteri dan putranya di lembah sunyi, hanya bermodalkan satu kendi air dan sedikit kurma. Saat Nabi Ibrahim berpaling pergi, sang istri mengikutinya sambil berkata: “Kemana engkau pergi, apakah kau (tega) meninggalkan kami di lembah tak berpenghuni dan gersang ini?”. Dengan tegar Nabi Ibrahim berjalan terus, tak mengucapkan sepatah kata pun. Maka isterinya berkata: “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”, beliau menjawab: “Ya.” Maka istrinya pun berkata: “Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami!”.
Jika Anda takjub dengan keikhlasan dan ketegaran Nabi Ibrahim ‘alahissalam, maka Anda takkan kalah takjub dengan tingginya ketulusan dan keikhlasan istri beliau. Tatkala ia tau, bahwa suami tercinta meninggalkan mereka di sana atas perintah Allah, maka dengan hati penuh yakin dan tawakkal ia berkata: ” Allah tidak akan menelantarkan kami!.
Rasa cinta Nabiyullah Ibrahim kepada istri dan putranya, membuatnya terhenti sejenak, setelah yakin istrinya tak lagi melihatnya, beliau berpaling menghadap Ka’bah (tempat buah hatinya berada), beliaupun menengadahkan tangannya seraya berdo’a:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).
Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbana tulus hamba-Nya. Setelah tujuh kali bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwa, akhirnya Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menggali mata air zam-zama di sisi bayi Isma’il. Peristiwa yang kemudian diabadikan dalam manasik haji berupa sa’i antara Shafa dan Marwa sebagai salah satu  rukun haji dan umrah, yang  melambangkan pengorbanan besar dengan keikhlasan tinggi dari sebuah keluarga mulia. (Lihat: Shahih Bukhari, jilid IV, hal. 144, no. 3365).
Laksanakanlah Ayah, Aku Akan Sabar!
Masih seputar kisah keluarga nan mulia. Ketika Nabi Isma’il ‘alaihissalam sampai usia mampu membantu ayahnya dalam pekerjaannya, wahyu Allah turun kepada sang ayah melalui mimpi berisi perintah mengorbankan putranya. Sebagai manusia biasa, tentu kita sulit mencerna atau bahkan sulit menerima perintah kepada seorang ayah untuk menyembelih putra tercintanya. Tapi, tidak demikian dengan Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam, cintanya kepada Allah mengalahkan semua cinta, setelah lulus dalam berbagai ujian dari Allah, maka kali ini juga dengan penuh ikhlas beliau berazam untuk melaksanakan perintah-Nya.
Namun yang menambah kekaguman kita adalah reaksi sang putra saat mendengar perintah Allah yang disampaikan ayahnya. Dengan patuh dan ikhlas, ia menerima perintah tersebut tanpa rasa takut sedikitpun, tanpa sanggahan atau kritik. Ia justru berjanji akan sabar menerima ujian dari Allah Ta’ala. Firman Allah tentang kepatuhan sang ayah dan anaknya:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat: 102).
Kisah penyembelihan Ismail ‘alaihissalam  ini diabadikan dengan syariat menyembelih kurban pada 10 Dzulhijjah(Iedul Adha) dan hari-hari tasyriq.
Sungguh mengagumkan kisah pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kisah yang selayaknya menginspirasi kita untuk membiasakan diri berkorban dengan ikhlas, serta mentarbiah istri dan anak-anak kita untuk senantiasa patuh dan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketulusan.
Namun kita tidak boleh lengah akan godaan-godaan setan dari golongan jin dan manusia yang selalu menggembosi kita dalam usaha menunaikan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Inilah yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Setan tak hentinya menggoda keduanya dengan berbagai tipu daya agar keduanya mengurungkan niat. Bahkan dalam beberapa riwayat, setan muncul tiga kali, dan dilempari oleh Nabi Ibrahim dengan tujuh butir batu di tiga tempat. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam mansik haji berupa kewajiban melempar  tiga jumrah. (Kisah ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad, no. 2707 dengan sanad shahih, Ath-Thabrani, dalam Mu’jam al-Kabir, no. 10628, Hakim dalam al-Mustadrak, no. 1713, dll).
Mutiara Ittiba’.
Ittiba’ berarti meneladani dan mengikuti dengan tulus.
Selama sembilan tahun di Madinah, Rasulullah belum pernah melaksanakan ibadah haji. Baru pada tahun kesepuluh Hijriah beliau dizinkan Allah untuk menunaikannya. Berita persiapan haji beliau tersebar ke seantero Madinah dan sekitarnya, maka berbondong-bondonglah kaum muslimin datang menuju Madinah. Semua rindu Rasulullah, semua ingin meraup fadilah berhaji bersama Nabi tercinta.
Semua sahabat yang ikut berhaji bersama Rasulullah sangat antusias mengikuti tata cara yang beliau lakukan dan ajarkan. Sebab, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan agar mereka mengikuti fase demi fase tata cara manasik beliau. Hal ini sangat penting, karena barangkali hanya kali inilah mereka dapat berhaji bersama Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ»
“Ambillah manasik hajimu (dariku), sebab aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim, no. 1298)
Untuk tujuan mulia tersebut, dan agar memudahkan kaum muslimin dalam mengikuti manasik beliau, Rasulullah sengaja menunggang unta dalam hampir keseluruhan rangkaian manasik hajinya.
Selain kewajiban mengikuti manasik haji Rasulullah, para sahabat juga mengemban amanat besar untuk menghapal dan menyampaikan setiap perbuatan dan ucapan beliau selama menunaikan ibadah haji. Dan para sahabat telah menunaikan amanat ini dengan sempurna. Setiap perbuatan yang dilakukan serta perkataan, nasehat dan doa yang beliau ucapkan telah disampaikan kepada kita secara lengkap. Kesemuanya dapat dibuktikan dari hadits-hadits manasik yang dapat kita baca dalam kitab-kitab ulama. Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Imam Muslim adalah riwayat terkenal dan terlengkap yang menceritakan manasik Rasulullah dari awal sampai akhir.
Tugas kita semua sekarang adalah mengikuti sunnah Rasulullah dalam manasik haji dan dalam semua amal ibadah, sesuai tata cara yang disampaikan oleh para sahabat beliau, tanpa mengurangi atau menambah-nambahi.
Mutiara Wasathiah
Wasath  ( وَسَط ) dalam bahasa Arab berarti pertengahan, adil dan terpilih. Allah Ta’ala menjadikan umat Islam sebagai umat pilihan yang adil dan terbaik. Wasathiah dalam Beragama berarti mengamalkan ajaran agama sesuai Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, tidak mengurangi dan tidak menambahi, tidak lalai tidak pula ghuluw/ekstremis.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا }
“Dan demkianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasulullah menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS. Al-Baqarah: 143).
Orang yang mengklaim paling moderat, namun mengurangi kewajiban agama yang harus dilaksanakan tidaklah termasuk dalam golongan ummatan wasathan. Sebaliknya orang yang terlalu semangat, kemudian menambah akidah dan ibadah atau beramal melebihi batasan dan tuntunan syariat, bukanlah pula termasuk ummatan wasathan. Prinsip wasathiah ini harus tercermin dalam segala aspek kehidupan seorang muslim, dalam akidah, ibadah, dakwah, muamalah, akhlak, dsb.
Muslim wasathy (moderat) adalah muslim yang berjalan di atas shirathal mustaqim (jalan yang lurus), muslim yang komitmen dan berpegang teguh pada tuntunan Al-Quran dan sunnah Nabi.
Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “(Suatu hari) kami berkumpul di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau menarik garis lurus (di atas tanah), lalu membuat dua garis di sebelah kanannya, dan dua garis di sebelah kirinya. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis yang paling di tengah dan bersabda: “Inilah jalan Allah”, kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan Bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain” (QS. Al-An’am: 153). (Hadits shahih riwayat  Imam Ibnu Majah, no. 11). 
Selama melaksanakan ibadah haji, dan di saat jutaan muslimin berkumpul di tanah suci, tak jarang kita saksikan ritual-ritual ibadah yang dikaitkan dengan haji, namun tidak ada anjuran, tidak pula tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak jarang pula kita mendengar atau melihat, sebagian orang yang sengaja meninggalkan wajib haji dan manasik lainnya dengan berbagai alasan, dan memilih membayar dam karena merasa mampu, bukan karena halangan syar’i.  
Agar wasathiah terealisasi, maka sifat ghuluw (melampaui batas) juga kebalikannya harus benar-benar dihindari.
Batu Jamarat Dan Larangan Ghuluw(Ekstremisme) Beragama:
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku pada pagi hari Aqabah (10 Dzulhijjah): “Pungutlah batu-batu kecil untukku.” Maka akupun memungut batu-batu kecil (sebesar biji kacang), dan ketika beliau meletakkan batu-batu tersebut di tangannya, beliau bersabda: “Ya, yang seperti inilah. Dan janganlah kalian ghuluw (melampaui batas) dalam agama, sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena berlebihan dalam bergama.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, no. 1851, Nasa’i, no. 3057).   
Larangan berlebihan dan melampaui batas dalam menjalankan ajaran agama ini muncul dalam konteks memilih batu untuk melempar jamarat. Sehingga para ulama memakruhkan melempar jamarat dengan batu yang lebih besar dari biji kacang dengan keyakinan bahwa ia lebih afdhal, meskipun dianggap sah. Akan tetapi larangan tersebut esensinya mencakup segala aspek agama baik berupa keyakinan maupun amal perbuatan. Alasannya, bahwa ekstremisme dalam beragama dapat membinasakan diri sendiri, bahkan komunitas umat, sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu.
Fitnah Yang Besar:
Imam Ibnu Uyainah menceritakan kisah seorang pria yang datang dan bertanya kepada Imam Malik rahimahullah di Madinah.
Pria itu berkata kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah, dari mana aku berihram?” Imam Malik menjawab: “Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah berihram.” Pria itu berkata: “Aku akan ihram dari Masjid (Nabawi).” Imam Malik berkata: “Jangan lakukan itu.” Pria tersebut mengulangi lagi: “Aku akan ihram dari masjid nabawi, dari sisi kuburan (Nabi).” Imam Malik menyanggahnya: “Jangan, karena aku takut kau jatuh ke dalam fitnah.” Pria tersebut menjawab: “Fitnah apa, bukankah aku hanya menambah beberapa mil saja?”. Maka Imam Malik menjawab: “Fitnah mana yang lebih besar, dari pada kamu mengira bahwa dirimu telah meraih keutamaan yang tidak dapat digapai oleh Rasulullah?”. Sesungguhnya aku mendengar firman Allah Azza wa Jalla: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63).
(Riwayat ini disebutkan Imam Ibnu Al-Arabi dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an, cet. Darul Kutub al-Ilmiah, jilid III, hal. 432. Disebutkan juga oleh Imam Syathibi dalam Al-I’tisham, cet. Dar Ibnul Jauzi, jilid I, hal. 231 dan jilid II, hal. 382).
Imam Malik juga berkata: “Sunnah Nabi bagai kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam, siapa menaikinya ia akan selamat, dan siapa yang meninggalkannya ia akan tenggelam.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, karya Imam al-Harawi, cet. Maktabah al-ulum wa al-hikam,  jilid V, hal. 81).  
Mutiara Persatuan dan Persaudaraan.
Ibadah haji adalah wujud hakiki dari persatuan internasional umat Islam. Barangkali sampai saat ini belum ada ritual ibadah dari aneka ragam agama dan kepercayaan yang menunjukkan persatuan dan keseragaman dalam berbagai sisi yang sebanding apalagi mengalahkan haji.
Niat dan Tujuan.
Semua yang datang ke tanah suci pada bulan haji, sejatinya memiliki niat dan tujuan yang sama. Yakni menunaikan rukun Islam yang kelima dan menggugurkan kewajiban yang hanya sekali seumur hidup. Seluruh jama’ah berharap agar Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa, menerima segala ibadah, dan menganugerahkan mereka haji yang mabrur.
Pakaian seragam.
Seragam yang digunanakan semua jama’ah haji pria sama, dua helai kain putih yang menutupi bagian atas dan bagian bawah tubuh bak kain kafan. Semua bersatu memakai seragam yang sama, Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, antara pejabat tinggi dan rakyat jelata.
Waktu dan tempat.
Waktu ibadah haji terbatas, dan tempatnya juga terbatas. Inti ibadah haji dimulai dari hari tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, dan tempatnya hanya di Kota suci Makkah. Siapa yang melaksanakan ibadah haji selain waktu dan tempat yang telah ditetapkan, maka perbuatannya bukanlah ibadah haji.
Talbiah dan Rangkaian Ibadah.
Setelah ihram dimulai, seluruh jama’ah mengangkat suara mengucapkan talbiah dengan bacaan yang sama dan bahasa yang sama.
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ. لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ. إِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ لَكَ، وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ»
Kemudian masing-masing melakukan aktifitas ibadah sesuai waktu dan kondisi masing-masing hingga hari Arafah. Pada hari Arafah semua harus hadir di Padang Arafah, untuk wukuf, berdoa, memohon ampun dan berdzikir sebanyak mungkin. Wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji, dan wukuf di Arafah adalah lambang persatuan tertinggi.
Bukan hanya mereka yang wukuf di Arafah yang merasakan keagungan hari ini, kaum muslimin seluruh dunia juga dianjurkan berpuasa Arafah, agar ikut merasakan suasana wukuf di Arafah yang biasanya panas dan melelahkan. Agar semuanya, baik yang di Arafah maupun di luar Arafah mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Yang Maha Pemurah.
Pada hari 10 Dzulhijjah, jama’ah haji merasa gembira karena telah menyelesaikan sebgain besar rangkaian manasik, mereka gembira karena telah tahallul (terbebas) dari sebagian besar larangan-larangan ihram. Demikian juga kaum muslimin di dunia, semua bergembira menyambut hari raya kurban,  Iedul Adha.
Persatuan dan persaudaraan semakin erat ketika para dermawan dari masyarakat Arab Saudi & lainnya berlomba-lomba melayani jama’ah haji dalam beraneka medan kebaikan, mulai dari membagikan makanan dan minuman secara cuma-cuma, sampai menghadiahkan sarana-sarana lain yang dapat membantu tamu-tamu Allah.
Melalui ibadah haji syariat Islam mengajarkan kaum muslimin makna penting persatuan dan persaudaraan, sebab persatuan dan persaudaraan adalah salah satu maqashid/tujuan utama syariat Islam. Selain haji, kita juga merasakan prinsip ini berusaha ditanamkan melalui ibadah lainnya, seperti shalat berjama’ah, berpuasa di bulan Ramadhan secara bersama dan berlebaran bersama.
Demikianlah, seyogyanya jika kaum muslimin di sebuah negara atau dalam taraf global mampu menerapkan unsur-unsur persatuan dan perekat persaudaraan di atas, maka insya Allah mereka akan mampu memimpin dunia dan Islam akan jaya. Semuanya bersatu di atas akidah yang benar, bersatu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sebagai sumber ide dan aksi, bersatu dalam sikap dan pilihan politik, dan dalam semua sendi kehidupan.
Mutiara Penghambaan dan Kesungguhan.
Tabiat asal manusia apabila diberi sedikit kelebihan atas yang lain akan merasa angkuh, sombong, bahkan terkadang melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman:
{ (كَلاَّ إِنَّ الْإِنْسانَ لَيَطْغى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنى (7 }
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7). 
Karenanya, manusia harus disadarkan bahwa mereka hakikatnya hanyalah seorang hamba. Seberapa banyakpun hartanya, setinggi manapun jabatannya, sekuat apapun tenaganya, dia tetaplah lemah tiada daya dan kekuatan kecuali dengan karunia Allah. Untuk itu, disyariatkanlah beberapa ibadah, agar manusia tetap tunduk, tawadhu’, dan sadar bahwa dia adalah hamba bagi Dzat Yang Maha Kuasa. Dia diperintahkan sujud minimal 34 kali sehari semalam. Manusia juga diperintahkan senantiasa menengadahkan tangan dan hati meminta serta memohon kepada Allah pemilik segalanya.
Rangkaian ibadah haji juga mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah seorang hamba yang wajib tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala. Semenjak sampai di Miqat, jama’ah haji sudah diperintahkan menanggalkan semua label duniawi. Bagi pria hanya dibenarkan memakai dua helai kain, tidak boleh menutup kepala, dan tidak boleh memakai sepatu. Wanita dan pria harus meninggalkan beberapa kesenangan duniawi, seperti hubungan suami istri, memakai parfum dan wangi-wangian, memotong kuku dan rambut, dan berburu hewan liar.
Sampai di Makkah saat thawaf  mengitari Ka’bah disunnahkan mencium batu ‘hajarul aswad’, namun ketika di Jamarat mereka diwajibkan melempar batu. Yang ini batu, yang di sana juga batu, tetapi seorang muslim tidak selayaknya bertanya kenapa batu yang ini dianjurkan untuk dicium sedang yang di sana dilemparkan. Sebab, Hakikat ibadah ini adalah ujian kepatuhan dan penghambaan.
Para sahabat rasulullah, termasuk Amirul Mukminin Umar bin Khattab sangat memahami makna ini, karenanya setelah mencium hajarul aswad beliau berkata: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tiada dapat membawa mudarat tidak pula manfaat, andai saja aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, aku takkan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597, Muslim, no. 1270).
Puncak dari ketundukan dan penghambaan ini bermuara pada wukuf di padang Arafah. Pada saat itu, semua jamaah haji menundukkan diri dan hati kepada Dzat Yang Maha Tinggi.
Dengan sungguh-sungguh mereka berdzikir, membaca Al-Qur’an, memohon ampunan sebanyak-banyaknya, dan berdoa agar Allah membebaskan mereka dari api neraka. Selama lebih kurang enam jam, mereka berdiam di sana, hanya untuk menunjukkan betapa rendahnya mereka, betapa butuhnya mereka akan kasing sayang dan ampunan Allah Ta’ala.
Semakin merendah seorang hamba kepada Rabbnya, maka Dia pasti semakin mengangkat derajat dan memberi kemuliaan kepadanya.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiada hari dimana Allah banyak membebaskan hamba di dalamnya dari api nereka selain hari Arafah, Sesungguhnya Allah mendekat, dan membanggakan mereka di hadapan para Malaikat, seraya berfirman: “Apa yang mereka inginkan?”. (HR. Muslim, no. 1348).
Pantaslah Allah Yang Maha Diraja, mengelu-elukan manusia di hadapan para malaikat yang mulia, karena mereka telah menunjukkan ketundukan dan kerendahan diri yang tiada tara. Lantas Allah bertanya kepada Malaikat -padahal Allah Maha Tahu- apa yang mereka inginkan? Allah Maha Tahu, bahwa mereka menginginkan ampunan dan kasih sayang-Nya.
Akhir kata.
Ibadah haji bukanlah akhir dari segalanya, para jama’ah masih akan kembali ke tanah air masing-masing, masih akan melakukan ibadah dan aktifitas sehari-hari, masih akan jatuh ke dalam salah dan dosa,  maka motivasi kesungguhan dalam penghambaan yang mereka raih dalam ibadah haji, haruslah dibungkus rapi di hati sanubari, untuk dibawa dan diamalkan setiap saat, sampai tiba masanya, Allah menutup lembaran hidup mereka.
Inilah lima mutiara hikmah yang dapat kita dulang dan angkat ke hadapan para pembaca, sungguh masih banyak mutiara nan indah terpendam di tanah suci, semoga kita dan jama’ah haji dapat bersungguh-sungguh meraih, mengamalkan, dan menikmati manfaatnya di dunia dan akhirat nantinya. Amin, Wallahu a’lam.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar